Padd Solutions

Converted by Falcon Hive

Informasi pariwisata di Kabupaten Garut sudah lama saya dengar, terutama daerah Cipanas. Setelah melihat-lihat di pameran wisata di Balai Kartini Jakarta dan mendapatkan brosur wisata, saya pun bertekat untuk suatu waktu jalan-jalan ke Garut, lalu ke Ciamis, atau tepanya ke Pangandaran. Akhir tahun 2008, saya mendapatkan kesempatan itu. Perencanaan lalu dibuat karena pilihan obyek wisata Garut ternyata sangat banyak. Informasi di brosur, searching di Internet, dan bertanya-tanya di milis maupun secara langsung menjadi bahan pertimbangan. Atas saran yang diterima dan memperhatikan informasi cuaca di Garut di akhir tahun itu, yang khabarnya ‘kurang bersahabat’ alias hujan, maka kami memutuskan untuk menginap di Cipanas. Menurut informasi, mencari penginapan ‘murah meriah’ di daerah seperti Cisurupan (rencana semula, agar dekat dengan lokasi Curug Orok yang ingin kami kunjungi juga) agak sulit, apalagi jika sudah sore atau malam.

PERJALANAN

Kami (rombongan dua keluarga, dua mobil, 10 orang) berangkat dari kawasan Cibubur (Jakarta/Bogor) sekitar pukul 6:30 (Sabtu, 20/12/2008). Dari Tol Jagorawi langsung masuk JORR di pintu Kp. Rambutan. Mampir sarapan di rest area 57 –seperti kebiasaan kami jika ke Bandung- lalu masuk tol Purbaleunyi (Cipularang), mampir Pasteur sebentar menjemput seorang anggota, lalu melanjutkan ke arah Cileunyi.

Di Rest Area KM 57, Tol Jakarta-Cikampek

Keluar dari pintu tol Cileunyi, melanjutkan ke arah Garut/Tasikmalaya. Menurut peta, kami harus mengambil arah Cicalengka, bukan ke Tasik. Ternyata ini agak membingungkan, karena rambu/petunjuk arah umumnya hanya menunjuk arah ke Tasik, hanya beberapa yang mencantumkan Garut, dan petunjuk ini tidak berlanjut. Ketika ada petunjuk belok ke arah Cicalengka, kami mengambilnya (belok kanan) dan melalui pasar yang lumayan macet oleh angkot. Karena merasa ragu, kami lalu bertanya dan ternyata kami salah. Seharusnya kami tetap menuju ke arah Tasik, karena Cicalengka yang ada di peta memang di tempat itu lah, namun tidak perlu khusus ke arah Cicalengka yang ditunjukkan oleh rambu.

Terpaksa deh putar balik melalui pasar macet itu lagi dan menuju Tasik. Setelah melalui daerah Nagrek, barulah ada belokan ke kanan yang menuju Garut. Ini pun cukup membingungkan karena pada rambu/petunjuk jalan, panah ke kanan untuk menuju ke Garut terlihat dikoreksi (dibuat ulang, panah ke kanan ditimpa dengan panah lurus yang artinya sejalan dengan yang ke arah Tasik). Untunglah pada pertigaan yang sebenarnya, ada tanda panah yang tegas ke arah kanan menuju Garut. Rambu ini sebenarnya membuat kagok karena pertigaan itu pas pada jalan yang menurun (mendaki dari arah Tasik) sehingga harus memotong jalan kendaraan dari Tasik yang sedang menanjak.

Kondisi jalan sendiri cukup baik, aspal lumayan mulus, dan di Cipanas sendiri sedang di-hot-mix, sebagian sudah selesai. Situasi jalan tidak sulit, cenderung lurus dan tidak ramai.

Jalan menuju Garut

Kami sampai di Cipanas sebelum Dhuhur, sebelum jam 12 siang. Artinya, total perjalanan dari Cibubur ke Cipanas, termasuk mampir sarapan di rest area dan menunggu di samping lampu merah Pasteur, tidak sampai 6 jam. Pantas saja ada yang bilang naik sepeda motor dari Cileungsi, Bogor, ke Garut lewat Jonggol-Cianjur bisa ditempuh dalam waktu 6 jam.

Mungkin anda bertanya, letak Cipanas itu di sebelah mana kota Garut? Pertanyaan ini sempat mampir dalam pikiran saya sebelum berangkat, karena dalam peta yang saya peroleh tidak jelas. Ternyata, Cipanas itu termasuk Kabupaten Garut, kalau dari arah Cileunyi-Cicalengka-Nagrek, akan belok kanan (ada beberapa rambu sehingga saya agak bingung juga kapan harus belok kanan, namun pas belokannya cukup jelas). Jadi, Cipanas itu belok kanan sebelum mencapai Kota Garut.

Berpose di jalan menuju Cipanas, latar belakang kabut yang menutupi gunung

PENGINAPAN

Seperti informasi yang saya terima, mencari penginapan di Cipanas tidak sulit. Banyak sekali hotel dan penginapan yang mencantumkan plang “KOSONG”, dan banyak ‘agen’ pemasaran yang menawari. Kami tidak buru-buru memilih penginapan, dan terus melaju hingga “ujung”, dimana di ujung (ternyata dekat sumber air panas) dihadang oleh kawasan parkir dengan pintu gerbang berbayar (retribusi Rp 1000 yang harus dibayar Rp 3000). Di ‘dalam’ kami ditawari parkir di sebelah dalamnya lagi, yang ternyata halaman sebuah penginapan bernama “Lembur Kuring”. Tempatnya masih sepi, belum ada mobil yang parkir sehingga kami agak ragu. Di situ ada kolam pemandian air panas untuk umum juga. Setelah melakukan peninjauan dan tanya-tanya pada tukang bakso (sebelum memutuskan untuk menginap di situ kami jaja bakso dulu hangat-hangat), kami akhirnya memutuskan menginap di Lembur Kuring saja. Toh kalau mau kemana-mana cukup dekat, termasuk kalau mau ke kota atau ke lokasi wisata yang lain (Papandayan, Situ Bagendit, dll, ‘cuman’ 1 jam perjalanan menurut abang bakso).

Lembur Kuring sendiri memiliki beberapa bungalow dan kamar-kamar seperti rumah kontrak/bedeng. Bungalow bertarif mulai Rp 300.000 – Rp 500.000, namun ternyata sudah full booked. Kamar Rp 200.000 dengan fasilitas 2 bed cukup untuk 4 orang per kamar, dilengkapi bak mandi/berendam air panas pada tiap-tiap kamar, dan TV. Cukuplah. Kami mengambil 2 kamar, karena hanya menampung anak-anak.

Lembur Kuring di waktu malam

Selain fasilitas bak berendam di kamar, penghuni juga bisa memanfaatkan kolam pemandian umum tanpa membayar lagi (tarif umum Rp 6.000 untuk dewasa dan Rp 4.000 untuk anak-anak). Kami berenang, atau lebih tepatnya berendam di kolam yang ternyata di sore hari, jam 5an, cukup ramai (ternyata malam hari, sehabis Isya, justru lebih ramai lagi). Panasnya air membuat takut-takut. Dan kalau terlalu lama berendam, membuat kulit tampak kemerahan (di pintu bak berendam di kamar ada peringatan “MAKSIMUM 15 MENIT”).

Berenang/berendam di kolam air panas

KOTA GARUT

Setelah beristirahat sebentar di penginapan, kami menuju ke kota Garut untuk melihat-lihat suasana kota, dan mencari makan siang. Persis seperti informasi yang disampaikan rekan milis, kota Garut kecil saja, dan “cenderung kotor” (meminjam istilah rekan tersebut). Memang, perawatan keindahan atau kerapian kota tampak kurang memadai. Kami sempat parkir di pusat pertokoan dan memandang berkeliling, namun tidak tampak rumah makan yang “menarik” atau tempat belanja yang “menarik”. Tempat belanja jajanan tradisional/khas yang ditunjuk abang becak juga tutup. Akhirnya kami cabut ke arah alun-alun. Ternyata alun-alun itu hanya berupa halaman masjid jami / masjid agung (?). Kami tidak jadi mampir, karena tidak terlihat sesuatu yang “menarik” untuk mampir.

(Dari sekilas pandang ini saya menyimpulkan, upaya dinas pariwisata yang sudah menerbitkan brosur yang bagus dan mengikuti pameran dan membuat website bagus kurang didukung oleh fakta di lapangan).

Akhirnya, kami balik ke arah Cipanas karena dalam perjalanan dari Cipanas ke kota tadi kami sempat melihat ada sebuah “rumah makan” yang cukup besar, yang ternyata sebuah rumah makan di atas kolam (ada spanduk dengan kata-kata “Makan di Atas Kolam”) bernama “Sumber Rasa” (ada di sebelah kiri jalan dari Cipanas ke arah kota).

Makan di atas kolam

Suasana makan di atas kolam cukup menarik, terutama bagi anak-anak, karena di kolam di bawah ‘saung’ tempat makan benar-benar berisi ikan Mas yang besar-besar dan kalau diberi makan akan segera bergerombol dan berebutan. Namun kesan saya rumah makan ini kurang rajin dibersihkan (ada debu di lantai dan meja lesehan), dan pelayannya masih kurang terlatih. Masakan sih lumayan, namun serba berbayar dan agak lebih mahal dari tempat lain yang pernah kami kunjungi (kami suka mencoba-coba makanan / wisata kuliner di berbagai daerah yang kami kunjungi atau lewati, walaupun kelas sederhana).

SUMBER AIR PANAS

Kami pernah beberapa kali mandi/berendam air panas di Ciater (dekat Tangkuban Prahu, antara Subang dan Lembang/Bandung), langsung di lokasi yang menjadi sumber/mata air panasnya. Hal yang sama kami tanyakan kepada petugas di penginapan Lembur Kuring. Kami mendapat info bahwa ada dua sumber air panas. Pertama di Tirtalena, yang dialirkan melalui pipa ke penginapan-penginapan yang ada di situ. Sumber ini tidak terbuka untuk umum. Yang kedua yang terbuka untuk umum (sehingga bisa mandi/berendam di situ) adalah di Ci’engan (namanya kurang jelas di telinga saya). Saya membayangkan akan menemukan pancuran atau aliran air panas dari situ sehingga berencana melihatnya. Malam hari, kami pun berangkat menuju ke sana, jalan kaki, karena infonya hanya perlu 5 menit jalan kaki. Setelah bertanya sana-sini, kami memperoleh informasi bahwa untuk menuju ke Ci’engan itu harus melalui gang. Ternyata memang ada gang sempit di sela-sela rumah penduduk. Tidak ramai sehingga kami ragu. Dan setelah sampai di ‘lokasi’ pun kami masih terus berjalan mengikuti gang sehingga akhirnya bertanya lagi, lalu berjalan kembali karena sudah lewat! Lho, yang mana? Ternyata yang disebut Ci’engan itu berupa sebuah ‘bangunan’ seperti rumah penduduk di sekitarnya, dan ketika kami melongok ke dalam, memang ada sebuah kolam ‘kecil’ dimana beberapa pria tua (lansia) terlihat sedang berendam. Lho! Walah… ternyata cuman segitu tho? Seperti sebuah WC umum saja! Kami pun kembali dengan kecewa…

MAKANAN

Malam hari di daerah berhawa dingin seperti Cipanas, makanan apa yang lazimnya anda inginkan? Tentu terbayang semacam sate kambing dan sejenisnya. Harapan anda memang lazim, terbukti di sekitar lokasi parkir berretribusi yang rupanya menjadi sentralnya Cipanas itu, di kanan-kiri jalan banyak warung yang menjual sate kambing (juga sate ayam), sop, dan gulai.

Pemilik warung akan menyapa setiap yang lewat, mengajak mampir makan di warungnya. Kami melihat, hampir semua (kalau tidak ingin mengatakan semua) warung mendisplay sate yang serupa (penampilan sate, tusuk/sujennya, dan cara meletakkannya). Kami sampai menyimpulkan bahwa sate yang dijual di warung-warung itu pastilah dari sumber yang sama, semacam produsen atau distributor, dan warung hanyalah penjajanya saja. Ya, apa boleh buat. Masuk ke warung yang mana saja ‘pasti’ akan mendapatkan sate yang sama. Tinggal sekarang mengharapkan pelayanan yang berbeda (karena penampilan warung juga tampak hampir sama). Kami lalu menebak, warung mana kira-kira yang bisa memberikan pelayanan yang lebih baik.

Dari rasa sate dan sop yang kami pesan, tidak ada keistimewaan, bahkan cenderung di bawah standar yang kami harapkan. Hmm apa boleh buat. Pilihan makanan lain tidak banyak. Ada nasi goreng, dan beberapa masakan instan seperti mie. Dari sisi ini tentu kami kecewa juga, mungkin serupa kecewanya dengan kenyataan bahwa suhu udara di Cipanas juga tidaklah sedingin ‘daerah dingin’ lainnya, misalnya kawasan Puncak Bogor, Ciater, atau Batu Malang. Bahkan, ada nyamuk! Hal yang tidak biasa ada di kawasan bersuhu rendah!

Sedikit terbersit dalam benak saya, promosi wisata yang dilakukan pemerintah Garut agaknya lebih indah dari aslinya. Mungkin perlu sentuhan pada dunia nyata, berupa penataan, pengayaan, dan sebagainya, sehingga harapan pengunjung wisatanya tidaklah terlalu terbanting. Walaupun kami termasuk penikmat wisata ‘kecil’ saja, namun pembandingan dengan daerah lain yang pernah kami kunjungi akan otomatis menentukan ukurannya.

SITU BAGENDIT

Dari brosur wisata Garut dan website pemkab Garut kita mengetahui bahwa di Garut banyak sekali obyek wisata. Tidak mungkin mengunjungi semuanya, apalagi ke pantai selatan (Pameungpeuk yang terkenal). Karena kami berencana ke Pangandaran yang berupa obyek wisata pantai, maka di Garut kami memilih yang di gunung. Kampung Sampireun yang terkenal batal kami kunjungi karena mahalnya tarif penginapan yang mencapai Rp 3,6jt (per kamar double-bed untuk 4 orang. Maklum Bintang 4).

Setelah mengumpulkan informasi lokasi dan keistimewaan, kami lalu memilih dua obyek, yaitu Situ Bagendit dan Curug Orok.

Perjalanan ke Situ Bagendit cukup mudah dan cepat. Situ Bagendit, dari arah Cipanas menuju Kota, belok kiri di ‘bundaran’ (pertigaan). Kalau ke kanan menuju Kota Garut. Kami beberapa kali bertanya di jalan untuk memastikan arah yang kami tempuh tidak salah (karena ada pertigaan yang tidak mencantumkan arahnya).

Dari arah yang kami tempuh, Situ Bagendit berada di kiri jalan. Ada plang nama yang cukup besar dan jelas, namun jalan masuk lokasi agak membuat kagok karena mendadak setelah melihat plang, harus langsung belok patah pada jalan yang menurun. Begitu masuk, langsung parkir. Untuk masuk ke Situ (Danau), membayar karcis Rp 2.000 per orang.

Naik rakit di Situ Bagendit

Situ Bagendit sendiri hanyalah sebuah danau kecil yang terkesan kurang dirawat. Di danau masih banyak tumbuhan-tumbuhan yang mengurangi keindahan panorama. Di tengah danau, tidak jauh, ada tiga buah ‘rakit’ dari bambu yang permanen (tidak bergerak) tempat tiga ‘pemiliknya’ berjualan. Pengunjung bisa menyewa rakit dari pinggir untuk menuju rakit permanen tersebut, bisa perorangan atau bisa juga borongan satu rakit (seperti yang kami lakukan) dengan harga nego.

Setelah naik rakit mutar ke tengah lalu balik lagi, kami duduk-duduk di saung para penjual di pinggir danau. Di situ bisa memesan kelapa muda, atau makanan seperti pecel dan karedok. Ada juga taman bermain anak-anak, yang dilengkapi trem untuk mutar-mutar taman.

CURUG OROK

Kami melanjutkan perjalanan dari Situ Bagendit ke Curug Orok. Ternyata, Curug Orok terletak di sebelah yang berlawanan dengan Situ Bagendit. Jadi, kami kembali ke arah semula (ke ‘Bundaran’) lalu menuju ke arah Kota Garut. Sesuai petunjuk yang kami peroleh di jalan, Curug Orok berada di jalur ke arah Bungbulang. Jadi, kami melintasi kota terus ke selatan. Jaraknya cukup jauh, dan melalui jalan yang kondisinya kurang baik.

Arah Bungbulang sendiri kurang begitu populer. Dari Kota, arah yang ditempuh adalah arah Papandayan atau Pameungpeuk, lalu nanti ada belokan ke kanan ke arah Bungbulang. Di arah Bungbulang inilah jalanan kurang bagus dan sempit. Setelah sampai di lokasi (ada di sebelah kiri) saya sempat terlewat karena plang nama hanya kecil saja dan ditulis ‘biasa’.

Menuju lokasi Curug Orok

Untuk menuju lokasi Curug masih perlu melalui jalanan batu yang kurang ‘bersahabat’ (terutama yang menggunakan mobil sedan), namun tidak begitu jauh. Setelah sampai di tempat parkir, kita masih harus turun ke dasar lembah untuk bisa mendekati air terjun. Untunglah oleh pengelola telah dibuatkan semacam ‘tangga’, namun ketika naik kembali… humph! Capai….. :(

Curug Orok dilihat dari atas

Curug Orok di dasar lembah

DODOL GARUT?

Garut terkenal dengan jajanan Dodol Garut. Kami pun mencoba mencari (sambil jalan) ‘pusat’ penjualan oleh-oleh khas yang terkenal itu. Mungkin kami kurang beruntung karena tidak dipandu oleh seseorang yang mengenal Garut dengan baik. Namun sepanjang yang kami lihat, setelah sempat mutar di beberapa jalan di Kota (dan salah satu toko yang ditunjuk abang becak ternyata tutup), kami lalu belanja oleh-oleh di jalan yang menuju Cipanas (dari kota).Ternyata sama saja. Walaupun mungkin aneka dodol di sini lebih lengkap, namun sama saja dengan toko atau counter penjualan oleh-oleh lainnya. Di sini pun ada dodol yang ternyata diproduksi di Bandung :).

(0) Comments

Poskan Komentar